Laman

all about XII IPA 2

haii .. welcome to our blog :D .
we are from XII IPA 2. we are student in SMAN 4 Kota Tangerang Selatan.

Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Desember 2010

AKIBAT KECEROBOHAN NIKEN

Kriiiiiing !!!

Bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi. Anak-anak kelas XI IPA 2 pun bergegas meninggalkan Laboratorium IPA.

Sania, Tere, dan Melda berdiri didepan pintu dengan wajah yang masam. “Cepetan kenapa ! lelet banget sih !” kata sania ketus. “Sabar dikit kenapa !” jawab Niken dengan wajah yang tak kalah masamnya. Niken memang orang yang terkenal akan sifatnya yang teledor, pelupa dan gerakannya yang super lambat. Tetapi, ia paling tidak suka jika ada orang yang menganggapnya begitu. “Nah, selesai juga deh iket tali sepatunya, gimana ? bagus rapih ga ?”, kata Niken dengan wajah tanpa rasa bersalah. “iya deh bagus, ayoo cepetan !”, jawab Melda dengan tak sabar. “Ih, kok jawabnya kaya gak ikhlas gitu sih?”, kata Niken sedih. “Bagus kok Nik sepatu lo, ga usah diiket juga udah bagus kok”, canda tere dengan senyum jahil. “Ih Tere mah ngeledek terus !” jawab Niken. “ yaudah cepetan ayo, nanti pak Saut keburu datang loh”, Melda mengingatkan. “Iya ayo !!”, sambung sania. Lalu mereka pun bergegas menuju ke kelas.

Saat mereka tiba dikelas, ternyata guru yang mereka kenal sebagai orang yang tegas dan juga humoris itu belum tiba di kelas. “Yah, udah buru-buru tapi ternyata Pak Saut belum datang”, keluh Melda. Karena Pak Saut belum tiba di kelas mereka, maka mereka pun bercanda dan mengobrol dengan asyiknya. Tiba-tiba Sania ingin meminjam Handphone Niken, “eh Nik, gue boleh pinjem Handphone lo gak ? buat sms nih”, tanya Sania. “Tuh, ambil aja. Pake aja sepuas lo, gue lagi banyak bonus nih. Ehehe”, jawab Niken dengan santainya.

Lalu Sania pun mengambil Handphone Niken dan menggunakannya untuk sms. Setelah Sania selesai meminjam Handphone Niken, Sania pun menaruh kembali handphone Niken di tempat ia mengambilnya tadi, yaitu di atas Jas Laboratorium yang masih belum dimasukkan dan masih ada di atas meja.

Setelah terlambat 30 menit, Pak saut pun tiba di kelas XI IPA 2. suasana kelas yang tadinya ribut mendadak menjadi sunyi karena kedatangan Pak Saut. “Maaf aak-anak, Bapak terlambat masuk ke kelas karena tadi ada sedikit urusan. Sebagai permohonan maaf, Bapak akan mengadakan ulangan dadakan.” Kata Pak saur dengan suara lantang. “HAAAH ??”, anak-anak teriak dengan kompak. “Aduh, kalian kalau mau sekolah sikat gigi dulu kenapa sih. Polusi udara nih !”, canda Pak Saut. “Woo !! enak aja !”, sorak seisi kelas. “Jadi ga nih Pak ulangannya ?”, tanya Tere. Yasudahlah, karena Bapak adalah orang yang baik hati, jadi kerjakan saja Latihan halaman 139 !”, perintah Pak Saut.

Saat semua siswa dan siswi mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Saut, tetapi Niken, Sania, Tere, dan Melda malah mengobrol dengan asyiknya. Niken yang ceroboh menaruh handphonenya di atas tumpukan Jas laboratoriumnya yang belum dilipat. Niken tidak sadar kalau diam-diam Pak Saut mengambil dan menyembunyikan handphone nya saat lewat didekat meja Niken. “ aduh, kalian ini bukannya mengerjakan tapi malah mengobrol saja! Ayo kerjakan sekarang!” tegur Pak Saut.

Setelah itu, Pak Saut pergi meninggalkan kelas. Lalu, Sania betanya pada Niken “Nik, temen gua bales sms di handphone lo ga?”, Tanya Sania. “Gak tau handphone gua kan sama lu ?”, jawab Sania. Niken yang tidak tahu bahwa handphonenya telah dikembalikan oleh Sania merasa kesal. Niken merasa kesal karena Sania meminjam handphonenya tetapi tidak bertanggung jawab. Sania juga merasa kesal terhadap Niken, karena sebenarnya ia sudah mengembalikan handphone nya Niken. “Tadi handphone gue lo taruh dimana ?”, Tanya Niken kesal. “Di meja lo ! maknya jangan ceroboh !”, jawab Sania dengan kesal. “Alah, bilang aja lo mau handphone gua kan ?”, Tuduh Niken dengan nada yang menyindir. Akhinya Sania dan Niken pun bertengkar.

Karena tidak mau selalu disalahkan, Sania pun ikut mencari handphone nya Niken. Pertama Sania dan Niken mencainya di toilet, namun tidak ditemukan. Lalu mereka mencarinya di Laboratorium, dan hasilnya juga sama yaitu NIHIL. Saat Sania dan Niken sedang berada di luar kelas, Pak Saut kembali ke kelas dan bertanya kepada Tere dan Melda kemana Sania dan Niken pegi. Lalu Tere dan Melda menceitakan kejadian tsb kepada Pak Saut. Pak Saut mendengakan cerita Tere dan Melda dengan tesenyum-senyum. Lalu tiba-tiba pak saut mengeluakan handphone nya Niken yang dia sembunyikan tadi dan menaruhnya di tempat pensil Niken. Tere dan Melda merasa kaget saat melihat Pak Saut yang ternyata menyembunyikan handphone nya Niken.

Tidak lama kemudian, Niken dan Sania pun kembali ke kelas. Wajah Niken sepeti oang yang ingin menangis, sedangkan Sania berwajah murung. Niken merasa sangat kesal terhadap Sania. “Ayoo anak-anak, keluarkan jangka kalian!”, perintah Pak Saut. Lalu semua murid pun mengikuti apa yang diperintahkan oleh Pak Saut. Niken merasa sangat kaget saat membuka tempat pensilnya dan melihat ada handphone nya di dalamnya. Lalu Pak Saut menghampiri Niken ke mejanya dan bertanya, “Makanya, kamu jadi orang jangan ceroboh !”. ”jadi bapak yang sembunyikan handphoen saya ?”, Tanya Niken kepada Pak Saut. “iya. Untuk member kamu pelajaran saja, agar kamu tak ceroboh lagi !”, jawab Pak Saut dengan santainya. Setelah mendengar perkataan Pak Saut, Niken merasa malu karena sudah menyalahkan Sania.

Karena merasa malu, Niken pun meminta maaf kepada sahabatnya yaitu Sania. Dia merasa sangat bersalah karena telah menyalahkan bahkan menuduh Sania telah mengambil handphonenya. Sania pun meminta maaf kepada Niken karena dia tidak bilang saat mengembalikan handphone nya Niken. Akhinya mereka pun baikan, mereka lebih mementingkan persahabatan mereka. Mereka tidak ingin persahabtan mereka hancur hanya karna hal seperti ini.

——————–

Jumat, 03 Desember 2010

TENTANG AKU DAN SI BISU (CERPEN)


TENTANG AKU DAN SI BISU
Karya : Aninda Firalita

          Aku merasa bosan di rumah. Setiap hari harus mendengar omelan Ibu dan rengekkan adik perempuanku. Masalah sebenarnya sepele saja, bersih-bersih rumah. Sedangkan aku enggan meninggalkan kegiatanku untuk rutinitas rumah yang sepele itu. Kalau sudah begini, aku langsung bersumpah dalam hati, jika nanti aku sudah berkeluarga, aku akan memanggil pembantu saja untuk mengurusi semua pekerjaan rumah. Aku benar-benar dongkol dan trauma dengan omelan Ibu. Dalam hati aku berkata, “ Apakah para Ibu selalu mengomel seperti itu? Tuhan selamatkan aku dari rumah yang menjengkelkan ini. “
          “ Bang, es dogernya satu! “ teriakku pada penjual es doger yang selalu berjualan di depan gerbang sekolah. Sambil menunggu es doger, kupandangi teman-temanku dari kejauhan. Betapa enaknya si Mira itu. Setiap hari diantar dan dijemput dengan mobil. Jika aku bisa seperti dia, pasti kulitku juga bisa putih mulus seperti dirinya. Mobil Mira melaju menjauhi kawasan sekolahku. Lalu tiba-tiba Reno dan Riska lewat di sebelahku. Mereka berdua mengobrol mesra sambil berboncengan motor. Ah, betapa malunya aku. Bahkan di usiaku yang sudah menginjak 17 tahun Ibu belum mengizinkanku untuk pacaran.
          Kunikmati es doger yang kubeli tadi sambil berjalan ke pinggir jalan tempat orang biasa menyetop angkot. Beberapa menit kemudian angkot jurusanku datang. Dengan cepat aku masuk ke dalamnya dan mengambil tempat kosong yang nyaman. Kulihat sudah ada 2 penumpang di dalam angkot. Yang satu di sebelah sopir, dan di sebelahku, satu. Ia seorang gadis seumuranku. Ia membawa keranjang besar yang ditutup kain. Kulit gadis itu coklat terbakar matahari. Sebenarnya dia gadis yang cantik, tapi sayang pakaiannya lusuh.
          Kucoba mengajaknya bicara, “ Wah, panas ya ”
          “…..” Tidak ada jawaban darinya, hanya anggukan.
          “ Rumahmu dimana? Masih jauh? “
          “…..” Ia hanya diam dan lagi-lagi mengangguk. Rupanya cuaca panas sudah membuat orang malas bicara ya, gerutuku. Menyebalkan sekali gadis ini. Akhirnya aku terpaksa ikut diam.
          “ Bruk! “ terdengar sopir membanting pintu angkotnya. Suara bantingan itu membuat aku dan seisi angkot ini kaget setengah mati. Hanya gadis itu yang datar-datar saja.
          “ Tiit ” suara bel angkot berbunyi, tanda ada penumpang yang akan turun, namun angkot masih terus melaju. Rupanya pak sopir tak mendengar suara bel.
          “ Dug dug dug “ Gadis di sebelahku mengetok langit-langit angkot, namun pak sopir masih asik melamun dan tak mendengarnya. Mengapa gadis ini tidak berteriak sih? Pikirku. Sebelum angkot melaju lebih jauh lagi, akupun berteriak, “ Kiri pak! “ Angkotpun langsung berhenti. Gadis itu menoleh sebentar ke arahku. Ia membayar ongkos kepada pak sopir.
          “ Kurang 1000 neng! BBM naek “ kata pak sopir pada gadis itu. Kulihat wajah gadis itu panik. Ia melihat isi dompetnya yang kosong, lalu melambaikan tangannya pada pak sopir. Dengan suara yang tergagap-gagap dan gagu ia mencoba menjelaskan pada pak sopir dengan gerakan tangannya. Aku baru tersadar, gadis itu bisu. Pak sopir mulai menggerutu.
          “ Maaf pak, saya yang membayar kekurangannya “ kataku. Gadis itu tersenyum padaku, akupun membalasnya. Lalu pak sopir menjalankan angkotnya kembali.
          Sepuluh menit kemudian aku sampai di gang rumahku. Kubayar ongkosku sekaligus kekurangan gadis tadi. Sampai di rumah aku langsung berbaring di sofa. Kembali aku harus mendengar omelan Ibu. Masalahnya karena aku tidak langsung melepaskan seragamku. Hah.. menyebalkan!
          Beberapa hari kemudian sewaktu pulang sekolah, aku kebetulan bertemu lagi dengan gadis itu. Ia tersenyum ramah dan langsung meyodorkan uang 1000 rupiah. Akupun langsung menolaknya. “ Anggap saja sebagai tanda persahabatan “ ucapku padanya. Dia berusaha mengucapkan terima kasih walaupun dengan susah payah dan tergagu-gagu.
          “ Kenapa kamu ga sekolah? “ tanyaku padanya. Gadis itu mengeluarkan sebuah note book dan bolpoin.
          “ Sudah 4 hari ini aku membolos “ tulisnya.
          “ Kenapa bolos? “ tanyaku heran. Ia kembali menuliskan sesuatu di note booknya.
          “ Sudah 5 hari ini Ibuku sakit, jadi aku harus menggantikannya menjual kue di terminal “
          “ Jadi keranjang yang kamu bawa ini isinya kue-kue? “
          “ Ya.. “ tulisnya.
          Kami mengobrol cukup lama di dalam angkot. Aku melontarkan pertanyaan padanya, lalu Ia menjawabnya dengan tulisan.
          “ Bagaimana kalau aku mampir ke rumahmu? “ Ia segera mengangguk begitu mendengar aku ingin mampir ke rumahnya.
          Rumah gadis itu sempit sekali. Tiap ruangan dibatasi dengan tirai yang sudah butut. Ia hanya tinggal berdua saja dengan Ibunya. Aku mengobrol dengannya sambil memakan kue yang biasa Ia dan Ibunya jual di terminal. Meski aku harus bersabar menunggu Ia menjawab pertanyaanku dengan tulisannya.
          “ Oh ya, mana Ibumu? “
          “ Sedang tidur di dalam “ tulisnya.
          “ Kalau boleh tau, Ibumu sakit apa? “
          “ Mungkin kecapekan karena berdesak-desakkan mengambil BLT “
          Kasihan sekali gadis ini. Ia harus menanggung beban seberat itu. Dan hebatnya Ia tak pernah mengeluh meski harus menggantikan Ibunya berjualan kue di terminal. Diam-diam aku sangat malu atas sikapku pada Ibu. Berkali-kali aku mengatainya cerewet. Padahal cerewetnya Ibu itu pasti untuk kebaikanku.
          Sesampainya di rumah, tanpa disuruh aku langsung melepaskan seragamku, meletakkan sepatu pada tempatnya, aku juga menyapu dan mencuci piring. Dan setelah aku melakukan itu, ada kepuasan tersendiri untukku. Awalnya Ibu melihatku dengan terheran-heran, namun Ia tak berkomentar. Anehnya, sekarang aku rindu komentar cerewetnya. Terbayang jika Ibu sudah tiada, aku pasti sudah gila, aku takut sekali membayangkan hal itu. Gadis bisu itu memberiku pelajaran yang berharga. Aku sangat berterima kasih padanya. Rumah yang selama ini kuanggap mengganggu dan menjengkelkan, kini bisa menjadi istana yang nyaman untukku.